Adik, Kakak dan Saudara


Rek curhat yeuhhh.... Saat tahu hamil, salah satu yang saya pikirkan itu adalah tentang hubungan saudara antara Raffi dan adiknya kelak. Hihihi, kejauhan ya mikirnya? Tidak juga, karena menurut saya hal ini juga penting. Karena bagaimanapun mereka akan tumbuh dan besar bersama.


Makanya saya jadi mikir. Kira-kira Raffi bakal akur tidak ya sama adiknya. Mereka akan saling menjaga tidak ya satu sama lain? Mereka bakal saling menyayangi tidak ya? Mereka akan terus saling menghormati tidak ya? Pikiran itu terus berputar diotak saya selain pikiran dan kecemasan selama kehamilan lainnya. Iyalah namanya juga ibu hamil sensitifitas dan pikiran ada aja yang dirasakan :").

Kenapa bisa sampai punya pikiran gitu? Karena jujur, saya dan kakak tidak pernah akur dari kecil sampai dewasa. Bahkan sampai segede ini, kami masih saling egois satu sama lain. Iya, kami cuma berdua tapi emang dari dulu sendiri-sendiri. Kami tidak romantis layaknya saudara seperti keluarga lain, masing-masing saja. Karena sesusah apapun saya tidak pernah lari kekakak saya. Begitupun juga dia, lebih baik ketemen aja.

Tidak tahu kenapa hal ini terjadi. Entah karena kami memang bukan seayah hanya seibu, atau dari kecil berantem terus. Jadi nih ya, kalau ketemu tidak bisa lebih 3 hari pasti berantem nantinya :v. 

Padahal ya kalau kalian tahu, saya kenal namanya komputer dan internet itu saat kakak sekolah diluar kota. Makanya pas SMP saya bikin id echaimutenan sampai saat ini, salah satunya biar bisa email-emailan sama dia waktu itu xD. Tahun berapa ya pas bikin? 1997 kayaknya...

Kadang saya iri gitu kalau ngeliat foto-foto adik kakak orang lain yang sering aplot foto bareng dan saling bersama. Kok bisa ya? Kok keluarga kami nggak ya? Pas nikah sama suami, saya lihat keluarganya tidak jauh beda dengan keluarga saya. Sama-sama jalan sendiri-sendiri :v. Jadi rada susah mencari contoh yang bisa deket antara saudara --". Dan itu jadi kekhawatiran saya.

Walau begitu, antara keluarga saya dan suami ada kemiripan. Walau kesaudara biasa saja, tapi kalau keorang tua sayangnya minta ampun suami. Itu seh yang masih plusnya :D. Saya juga jarang ketemu kakak, paling bisa diitung jari apalagi kami berjauhan ujung keujung. Kalau bisa ditempuh motor sih mampir dah, lah ini lautan pulau jeh yang misahin. Lebih tepatnya sih butuh biaya banyak kesana :v.

Buat cari cara bagaimana ngedidik anak nanti saat punya saudara, kami banyak buka blog teman-teman yang punya anak lebih dari satu duluan. Yah yang bisa diterapin ya diterapin, yang tidak ya tidak hehehe *apasih.

Bersyukurlah kalian yang punya saudara dan akur. Saya dari dulu sangat ngedambain seperti itu. Mungkin juga kakak saya, cuma mau mendekat rasanya sudah terlambat atau memang tidak ada yang mau mendekat duluan :").

Doa saya, semoga nanti Raffi dan saudara-saudaranya nanti (ehem) bisa akur, saling jaga, saling sayang dan saling melindungi. Udah sih itu aja, semoga kami bisa mendidik anak-anak kami dengan baik, berkah dan bahagia agar selalu dijalan yang benar.

Buat kakakku yang nun jauh disana kalau misalnya bisa baca seh... Aku dah lupa kapan terakhir kita ngobrol saking lamanya, taunan xD. Memang ada saja cobaan sayang Allah sama keluarga kita, gak henti-hentinya. Tapi, walau kita memang tidak pernah bersama, jangan pernah lupa kalau kita tetap saudara. Apapun itu harusnya kita saling menguatkan. Doaku, semoga kamu baik-baik saja. Karena bagaimanapun, kamu tetap kakakku, kakak kandungku selamanya. Semoga kita bisa bahagiakan papa mama seperti keinginan kita saat masih kecil, dulu.

Aku sayang kakak, aku kangen kakak. Semoga Allah selalu berkahi hidupmu, Kak.