Jangan Pisahkan Kami, Tuhan

Malam ini saya susah banget tidur. Miring sana miring sini belum tidur-tidur. Padahal suami dan anak-anak sudah pulas boboknya. Iya, rasanya dikepala banyak sekali yang dipikirkan. Bukan, bukan karena hari ini anak-anak sudah harus masuk sekolah yang berarti harus bayar spp lagi *kode. Tapi lebih kebeberapa kejadian sebulan terakhir menjelang akhir tahun yang kami alami.


Sebulanan ini, saya bolak balik puskesmas terus kerumah sakit A, B dan C setelah dapat rujukan. Sebabnya karena setelah lahiran, saya mengalami seizure (kejang) yang sampai sekarang belum tahu penyebabnya. Dan sekarang saya lagi cari tahu kenapa-kenapanya. Dan ternyata proses untuk tahu kenapa seperti ini itu tidak sebentar. Butuh berminggu-minggu hingga sekarang masih ditahap akan EEG dirumah sakit C. Berbeda dengan syaraf kejepit saya, saat kejang ini saya lebih tidak bisa ngapa-ngapain karena saya sadar tapi tidak bisa ngapa-ngapain. Aduh gimana jelasinnya ya :v. Ya gitu dah xD.

Terus, karena mama sudah sebulan ini dirawat di RS karena drop diabetesnya sampai seminggu di ICU dan saya merasa bersalah dalam waktu yang sama ternyata saya tidak bisa ada didekatnya. Malah kena kejang yang total bikin saya tidak bisa pergi sendirian karena takut tiba-tiba serangan saat bawa Raffi dan Raffa. Dan itu menambah peer suami yang setiap jam harus ngontrol saya masih 'on' atau kenapa-kenapa. Karena bagaimanapun, saya dirumah sendiri hanya sama anak tanpa siapa-siapa.

Dan saya jadi semakin bersalah, saat kedua kaki mama dibalut perban karena diabetes basah sampai tidak bisa berdiri harus digotong. Iya, saya salah tidak bisa dampingi mama papa yang hanya berdua disana. Saya jadi merasa bersalah memilih tempat yang jauh dari mama papa karena mengikuti suami sebagai bakti seorang istri. Padahal mama papa butuh saya sebagai satu-satunya anak yang bisa merawat saat mereka sudah tua dibanding kakak yang nun jauh disana tanpa kabar berita...

Duh, kalau ingat ini pedih hati aing mah :"(. Tapi kumaha manehna? Kalau bisa belah diri, saya belah dah... Satu buat berbakti pada orang tua, satu buat berbakti sebagai istri dan ibu.

Terus satu pertanyaan saya karena tahu pedihnya hati kayak gini, gimana nanti saya dan anak-anak? Apakah mereka nanti akan memilih tempat yang jauh dan tidak sama saya lagi? Apakah nanti saya hanya berdua luntang lantung sama suami seperti mama papa disana tanpa anak-anak yang menemani?

Saya tidak sanggup.... Iya, saya tidak sanggup...

Setiap malam setiap hari, saya selalu berdoa pada Tuhan "Jangan pisahkan saya dengan suami dan anak kapanpun. Kalau saya harus berpisah biar saya yang pergi dulu biar tidak tahu rasanya sakit kehilangan dan ditinggalkan". Iya, saya tidak sanggup Gusti...

Saya berani meninggalkan semua masa lalu dan kehidupan dulu karena cintaMu. Berdiri dari nol tidak punya apa-apa, yang penting makan gak makan asal ngumpul. Gak papa miskin, asal Allah beri kami jalan yang lurus, yang halal dan yang berkah. Itu aja.. Makanya kalau yang sering baca postingan saya pasti sering baca doa semoga Allah lindungi keluarga kami yang penuh cinta. Iya, karena saya punyaMu sekarang dan hanya padaMu saya minta perlindungan untuk keluarga saya.

Ada pelangi setelah hujan karena Gusti Allah mboten sare. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupanny. Dan Allah sudah berjanji bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, innama‘al ‘usri yusro. Ma’al, bukan ba‘dal. Bersama, bukan sesudah. Dan saya percaya Allah akan dengar doa saya untuk selalu lindungi keluarga kami. Saya percaya, selalu percaya dan akan selalu percaya padaMu, Allah-ku.

Jangan pisahkan kami, Tuhan. 

Setiap malam saya pandangi wajah anak-anak saat tidur, tidak saya tidak sanggup pisah dari mereka. Hidup saya buat mereka dan saya berharap bisa selalu menemani mereka hingga masa saya tiba menghadapMu. Tidak, saya benar-benar tidak sanggup kalau tidak ada disamping mereka. 

Jangan pisahkan kami, Tuhan.

Ijinkan saya menemani suami sampai tiba masa kami. Ijinkan kami selalu bersama bergandeng tangan saling mendukung dan mencintai dijalanMu. Di garis yang Kamu berkahi, lurus tanpa ada kerikil yang membuat kami melepaskan pegangan satu sama lain. 

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah harus sehat demi anak-anak, suami dan mama papa. Karena kalau saya sehat semua bisa dilakukan tanpa terkecuali. Dan berdoa semoga mama papa juga sehat plus diberi kekuatan walau saya tidak ada disana :(. Selain itu, saya juga berdoa agar kami sekeluarga selalu dalam perlindunganMu. karena hanya padaMu kami meminta.
Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita. La Tahzan, Innallaha Ma’ana.
Jangan pisahkan kami, Tuhan.

Makin larut ya dan saya makin baper nulis ini. Tapi lumayan lega bisa nulis seperti ini, paling tidak saya bisa ngungkapin kangen sama mama papa. Dan saya tidak minta apa-apa selain jangan pernah pisahkan kami ya Allah. Lindungilah keluarga kami, lindungilah keluarga kami, lindungilah keluarga kami. Karena Dirimulah satu-satunya yang Maha Memberi Perlindungan dibandingkan apapun. 

Mama Papa, echa kangen :") sangat kangen :"). Sehat selalu tanpa adanya echa disana. Karena sayang ini selalu buat mama papa. Selalu mendoakan mama papa dalam setiap hembusan nafas. Selalu sarebudriz selamanya. Selamanya.

Saya mohon, jangan pisahkan saya dari anak-anak dan suami. Saya tidak sanggup. Iya, saya tidak sanggup kalau harus sehari tanpa mereka yang saya sayangi. Saya mohon, jangan pisahkan kami, Tuhan. Saya cuma ingin hidup yang damai dan tentram bersama keluarga yang penuh cinta :"). Ijinkan saya dan suami selalu bersama anak-anak dekat kami selamanya. Karena saya tidak sanggup tanpa sehari melihat senyum mereka :").

Btw, doain hasil EEG dll bagus yak :*.