Refleksi Diri: Apa Aku Kurang Semangat Berusaha?

Apa Aku Kurang Semangat Berusaha?

Mulai dari mana mulainya hehehe. Hidup itu memang sawang sinawang. Dulu Mama saat masih hidup sering bilang sama saya, "Cha, pokoknya hayo semangat terus. Belum bisa coba lagi". Dan itu yang saya lakukan hampir setiap hari di seumur hidup. Cuma Mama lupa kalau ada Allah dan rejeki tidak pernah salah tempat. Jadi sebagaimanapun saya berusaha, kalau Allah bilang tidak ya tidak akan mulus.
Tapi ya itu hanya sedikit memori kecil yang tertancap di otak. Dan sekarang saya berikan pada anak-anak, yang penting mereka berusaha dulu. Masalah ga berhasil ya Allah penentu, kita manusia cuma bisa berusaha dan berdoa.

Dan itu hanya berlaku saat saya 'sehat'. Iya sakit dalam waktu lama seperti ini memang mau tidak mau mempengaruhi pikiran saya. Wajar namanya juga manusia. Dan rasanya bukan hanya cobaan sakit saya dan pak tile. Pekerjaan juga semakin lama semakin susah, tadinya sempat saya bernafas lega ikut di suatu media. Tapi entah gimana tiba-tiba yang tadinya menulis 5-10 tulisan sehari mulai berkurang. Hingga benar-benar tidak sama sekali diberikan kerjaan. Cuma yang bernasib ya bukan yang freelance saja, yang karyawan tetap juga pada dilayoff-in banyak.

Sedih? Banget. Mana selama ini itu penghasilan utama terbesar saya. Hidup di desa dengan minimalisir pengeluaran dengan gaji di Jakarta memang cita-cita. Cuma kami lupa risiko kalau freelance bisa dicut kapan saja tanpa teding aling-aling. Selama di sini jujur saya sudah diberhentikan 1 brand dan 2 media, yah mulai dari alasan covid sampai pengurangan karyawan. Banyak seh sebabnya yang pasti memang karena sudah tidak bisa di sana lagi.

Beruntungnya saya masih diajakin oleh editor-editor buat kerja kecil-kecilan. Meski gajinya tidak sebesar dulu, tapi adalah ya buat makan sekeluarga sehari. Dan itu jujur gak cukup biayain setiap harinya keluarga yang jumlahnya banyak ini. Jangankan biaya makan, buat bayar spp aja ga cukup. Belum lagi biaya berobat yang mahalnya masyaAllah yang harus ke luar kota demi bisa sembuh. Kebetulan di desa tidak ada dokter bedah syaraf dan dokter onkologi. Dan yaaaa, itu kujalani udah hampir 1,5 tahun ini masyaAllah. Capek iya, capek duitnya lebih.

Jadi tidak heran kalau saya sering minta tolong teman buat biaya berobat atau sekolah. Ya karena itu yang penting. BPJSnya seh gratis, ongkosnya masyaAllah. Bahkan sekarang saya sudah tidak mau lagi fisioterapi, jadi cuma perpanjangan obat saja. Bukan apa-apa biaya ke luar kota seminggu dua kali itu ga cuma bawa uang 500rb soale. Karena saya kan belum bisa duduk di bis. Makanya seringnya kesal sama diri sendiri. Duh ya kek malang ketimpa tangga aja.

Tapi echa masih semangat? Masih lah berusaha semangat setiap detik karena hidup cuma sekali. Tapi apa hanya semangat yang saya butuhkan? Tidak toh?.

Susahnya Curhat Sama Orang Lain

curhat
Biasanya saya sering banget dapat curhatan banyak orang. Iya saya sampe bingung mau curhat sama siapa. Karena pernah saya curhat dianggap sebagai nambah masalah orang lain, jadi kadang mikir-mikir mau curhat. Meski teman kadang biar ga nambah pikiran, dia dah cut duluan. Jadi jujur memangsatu-satunya teman curhat cuma suami saja.

Saya kadang sedih juga, kalau mau ngechat gt takut dikira berbagi kesedihan dan minjem uang. Meski kadang iya sih hehehe, tapi saya sebenarnya cuma butuh teman curhat saja. Sekalinya curhat ya paling ke temen yang punya sakit sama gak sembuh-sembuh. Kadang sedih seh sebagai orang yang dikenal positif thinking tiba-tiba curhat memprihatinkan. Kan ya apa tapi namanya juga hidup.

Jadi ingat, kalau baca tulisan orang-orang ngapain ngeblog. Ada yang aktualisasi dirilah, menyalurkan hobi menulis, menambah duit dapur dll. Iya, jawabanku sama kayak gitu kok tapi itu dulu. Sekarang jangan ditanya ngeblogku ya buat makan, tanpa kepikiran baju baru dll. Boro-boro jalan-jalan, keluar pagar rumah saja sendiri saya gak bisa.

Apalah arti hidup saya sekarang. Nyusain suami, ga produktif, mental tempe, sedihnya terusan dll. Ga ada yang ga negatif di diri saya sekarang. Kadang sampai bilang, ngapain saya masih idup. Coba nih ya aku gak sakit, pasti suami lebih mudah berkarir. Dah gila kali, dari pakai baju kantoran rapi dasian tiba-tiba kudu celana pendek masak di dapur. Huhuhu.

Tapi aku memang bersalah sama suami. Sering karena sedihku. saya limpahin ke suami. Marah-marah dll. Padahal posisi kita sama, tidak punya teman curhat sama sekali. Benar-benar hanya berdua mengingatkan dan menyemangati. Tapi entah.... saya sendiri juga salah. Cuma memang tidak ada yang bisa saya lakukan sama sekali. Saya benar-benar jadi orang yang tidak berguna rasanya.

Apakah saya kurang berusaha? Apakah saya kurang semangat? Saya cuma ga punya kesempatan untuk mengubah nasib aja. Entah sampai kapan keterpurukan ini terjadi. Saya cuma pengen hidup tenang dengan kesehatan baik dan uang cukup sambil melihat anak-anak tumbuh sehat pintar dan berhasil di masa depan. Tapi sekarang? Berpikir bisa membiayain mereka saja saya sudah tidak bisa. Ketakutan demi ketakutan terus ada tanpa henti, bukan karena tidak percaya hanya lebih tahu diri saja. Hikz, duh Gusti.

Tahun lalu aku berdoa sembuh dan bisa berdaya produktif lagi. Tapi belum juga dikabulkan. Sekarang dengan doa yang bertambah, saya harus meminta hal yang sama. Jika memang diberikan kesehatan pulih sehat lagi, berikan saya kesempatan untuk berdaya kembali untuk keluarga tercinta saya. Karena jujur jadi merasa toksik di keluarga, coba kalau saya ga ada pasti semua akan lebih tenang dan nyaman. Iya, semua hanya doa karena semua Allah yang mengatur.

Semangat saya selalu ada, tapi tolong jangan terus berikan cobaan bertubi-tubi. Jujur hamba ga sanggup ya Allah. Jangan siksa terus keluarga kami berikan kami nafas dan kebahagiaan. Kami cuma punya cinta satu sama lain agar selalu menguatkan. Iya, saling menguatkan. Cuma sampai kapan.... Hanya padaMu kami memohon.

Jujur, saya capek.

Related Posts