Teman Ngobrolku, Suamiku

teman ngobrolku suamiku

"Kamu enak bisa ngobrol sama banyak orang di luar rumah!"
"Loh, aku emang ketemu banyak orang tapi bukan berarti aku ngobrol macem-macem"
"Iya, tetep aja kamu enak. Aku cuma ngobrol sama Cucuth. Setiap aku pengen cerita pasti kudu nugguin kamu pulang. Dan kamu pulang pasti dah ngantuk dengerin aku"
"Gak gitu, Sayang!"

Percakapan beberapa tahun lalu ini kadang jadi bahan becandaan kami saat ini. Sekarang obrolan kami sudah berubah. Karena kami berdua malah hampir sama, karena ga ada yang ngobrol langsung sama orang lain. Ya paling kita aja sama anak. Apalagi pandemi, jarang banget keluar rumah.

Iya, sekarang situasinya kami semua di rumah aja. Bukan karena WFH bukan, tapi karena kami emang ga bekerja kantoran semua sudah. Papih resign sudah dari 2019 dan selama itu pula kami menggantungkan hidup kami dengan internet. 

Kalau ada sindiran tentang kok di rumah saja, ya selama 2 tahun ini kami memang usaha di rumah saja. Mulai dari ngejalanin rumah raisya, garuda balloon party sampai ngeblog. Ya cukup masih sih, walau belum bisa nabung masih. Tapi paling tidak kami tidak kelaparan, tidak punya utang dan tidak nyusain orang lain. Itu saja seh dah bersyukur. Yah banyak sekali 2 tahun ini kejadian macem-macem memang. Tapi itu bikin kami berdua makin dekat dan sering ngobrol.

Kalau boleh dibandingkan, berapa tahun lalu selama Papih bekerja kami selalu gali lubang tutup lubang. Walau gaji papih besar tapi tetap saja tidak nutup pengeluaran kami sama sekali. Beneran, rasanya uang belasan habis seketika saat itu. Yang ada malah detik-detik tanggal tua, biasanya pinjam ke teman papih yang kebetulan ngecashin uang di kartu kreditnya buat dipinjem-pinjemin, tentunya pakai bunga. Entah di mana yang salah saat itu, tapi kami jalani seperti biasanya karena melihat anak-anak harus kuaaaat. Sekuat macaaaan!

Akhirnya, kami pun sadar kalau ini udah ga bener. Satu-satu, kami ubah termasuk ninggalin riba. Yang mau tidak mau Papih harus keluar kantor karena dia di perbankan. Dan satu-satu kami tinggalkan memang. Dan alhamdulillah kami bisa menjalaninya sampai saat ini. Tapi ya kondisinya memang kami ga kekejar masalah perduitan lagi, tapi ya gini-gini aja gitu. Cukup. Ga kekurangan gak kelaparan.

Kalau ditanya enak mana kondisi dulu sama kondisi sekarang? Jelas alhamdulillah sekarang, saya ga deg-degan lagi ditagih orang bayar rumah, saya gak deg-degan lagi liat ada yang datang ke rumah minta angsuran, dll. Walau kekhawatiran untuk makan apa besok masih ada, tapi paling tidak kekhawatiran itu sangat berkurang. 

Baru-baru ini ada yang bilang kalau di rumah saja itu tetap berkarya. Persis seperti yang saya jalani sekarang jadi blogger. Karena bertahun-tahun ini ya kami memang bergantung sama pekerjaan saya menulis. Makanya kalau ke sini jangan lupa untuk klik-klik iklan ya wkwkkw. Sama minta doanya semoga rejeki kami tambah besar walau di rumah saja, kecukupan bisa nabung buat masa depan anak-anak kami yang masih kecil-kecil :").

Kembali lagi ke teman ngobrolku suamiku, ya gimana tidak? Saya jarang ngobrol, suamikupun jarang sama orang luar. Paling teman-teman dekat saja ngobrolnya. Itupun sekenanya sekarang. Di tempat baru teman sudah banyaaaak berubah, ya sama saja tidak ada teman sendiri. Tapi ada sahabat saya bilang, udahbiar aja...nanti di kuburan juga sendiri :"). 

Teman papih pun sama, dia sudah banyak left grup. Beruntung, saya masih gabung di beberapa komunitas blogger jadi masih tahu bagaimana info-info kerjaan. Yah, cukup kan yang penting. Toh saya mintanya juga ga neko-neko sama Allah. Anak-anak dan kami sekeluarga sehat saja dah cukup. Tidak kekurangan makan minum sandang pangan papan itupun sudah luar biasa senangnya. 

Teman ngobrolku, suamiku. Kami saling mencinta di awal dan akan selalu mencinta hingga akhir. Untuk bersama anak-anak kami tercinta buah hati kami. Tentunya dengan gaji halal bebas riba. Kami tenang, semoga kedamaian ini selalu menyertai kami. Semoga Allah selalu melimpahkan rejeki dan melindungi keluarga kami hingga kapanpun. Banyak pinta memang, tapi kalau mau dikerucutin saya cuma ingin Allah selalu melindungi keluarga kami agar selalu sehat bahagia penuh cinta berkecukupan.

Masih terngiang di kepala saat suami bilang sambil pegang tangan saya, "Kamu itu jantungnya rumah. Melihat kamu kembali seperti ini, memang besar yang dikorbankan. Tapi aku ikhlas, karena aku mencintaimu saat pertama kali bertemu. Ibu anak-anakku". :")

Kalau boleh bilang, andai di suruh memutar balikkan waktu saya pasti akan tetap memilih jadi istri suami saya dan ibu dari anak-anak saya sekarang. Kuatkan kami semua Tuhan. Karena hanya padaMu kami meminta. Hanya padaMu.

Oh iya, mumpung lebaran. Selamat hari raya idulfitri ya mohon maaf lahir batin. Semoga semua selalu bahagia. Dah lama kan saya ga curhat beneran wkwkwk. Tapi gpp, ini jadi pembelajaran kalau suami istri memang satu. Tetap kuat saling mendukung satu sama lain ya, karena keluarga adalah kesatuan. Jadi jangan lupa ngobrol sama suami, seperti saya dan papih. Bahagia selalu semuaaaa. Mmmuaahh