Cara Memperkenalkan Diri Sebagai Blogger di Lingkungan Desa

memperkenalkan diri sebagai blogger

"Kenalin nama saya, Echa. Saya ibunya Raffi"
"Oh yang baru pindahan itu ya Bu"
"Iya, Bu benar. Salam kenal ya buibu"
"Sama-sama. Kerja apa, Bu?"
"Jadi blogger Bu. Nulis-nulis gitu. Jadi kayak tahu cara membuat website gitu Bu"
"Oooo wartawan"
"..........."

Paling tidak itu percakapan saya selama ini kalau ngobrol sama orang-orang tempat tinggal sekarang. Berada di Jakarta coret dan terpencil membuat saya mau tidak mau beradaptasi dengan lingkungan baru. Bukan saya saja, anak-anak sekolah juga. Biasa yang sekolah tertata, rapi, guru-guru penyemangat dan anak-anak santun. Sekarang mau tidak mau adaptasi dengan hal berbeda 180 derajat.

Ya gimana, karena saya dan suami mau tidak mau kudu tinggal di sini sekarang. Jadi ya disyukuri paling tidak keinginan kami lihat sawah tercapai setiap hari :v. Memang biaya hidup 180 derajat jauh dari Jakarta, wong spp sekolah TK anak saya saja 20ribu. Serius! Coba di Jakarta SPP sebulan aja sejuta dulu. Jadi saya memang tidak terlalu berharap lebih. Ya sudah dijalani saja.

Cuma serius deh. Saya dan suami kan posisinya di rumah kecil saja tidak kemana-mana. Paling antar jemput sekolah atau ke pasar saja. Selebihnya ya sama anak-anak saja di rumah. Kerjaan saya ya cuma nulis blog saja seperti yang kalian baca ini. Tidak ada yang spesial. 

Jadi kalau ditanya kerja apa saya jujur bingung jawabnya apa. Kalau dulu, saat ditanya kerja apa dengan mudah saya jawab blogger. Kalau sekarang ya bingung mau jawab apa. Saat saya bilang kerja ngeblog, mereka tanya apa itu ngapain. Saat saya bilang nulis di internet gitu, mereka bilang oooo nulis aja ya kayak wartawan. 

Jeleger! Sampai akhirnya sekarang saya tanya kerja apa pasti bilangnya ya gitu saja di rumah saja nikmati nemeni anak. Udah cukup. The End wkwkw. Habis setiap saya ditanya kerja apa jadi panjang jelasin dan tidak pada tahu itu apa. Ya namanya tinggal di desa, kepoisme itu kerap terjadi dan menjadi hal biasa dengan nama kekerabatan. Miriplah kayak dulu pas ditanya kapan nikah, padahal mau nikah mau punya anak dll itu tidak ada hubungannya sama dia. Betul tidak? Jadi hanya karena kekerabatan dan kepoisme atau membuat suasana kaku jadi cair dan menggerahkan.

Makanya sekarang saya begini saja. Padahal tadinya saya bercita-cita tinggi ingin buat komunitas blogger dan sharing-sharing masalah digital marketing. Seperti membuat pelatihan cara membuat website, menaikkan follower instagram dll. Pupus dan gagal total. Ya sudah akhirnya memilih untuk jadi invisible saja. Hidup ya lebih tenang toh.

Tapi diantara 1000 orang di desa ini pasti ada 1-2 orang yang tertarik untuk tahu pekerjaan saya apa. Sesuatu yang tidak terpikir sebelumnya memang. Iya, walau tidak sampai 1 persen cuma pasti ada yang tertarik. 

Ini beberapa cara saya untuk memperkenalkan diri sebagai blogger di lingkungan desa yang mudah dipahami tanpa harus menjelaskan panjang lebar.

Cara Mengenalkan Diri Sebagai Blogger 

1. Bawa kartu nama

Wah kudu stok kartu nama banyak dong! Nggak juga. Rata-rata saya lihatin kartu nama saja tapi tidak diberikan. Wkwkwk. Iya paling tidak biar tahu saja.

2. Low profile banyak karya

Tetapnya terlihat seperti menganggur tapi yang penting kita terus berkarya. Karena akan sangat lebih baik ketika kita di lingkungan desa untuk tetap merendah. Tipikal lingkungan yang tidak bisa terkalahkan apalagi kalau kita terlihat biasa-biasa. Jadi memang penting untuk terus down to earth ya! Ingat yang kita kejar prestasi dan uang yang berkah, bukan pengakuan orang lain.

3. Kasih link portfolio dengan Desty App

Di desa, walau terpencil bukan berarti internet tidak kencang. Mereka pasti punya akun whatsapp dan tiktok *uhuk. Jadi misalnya ditanya kerja apa? Saya biasanya langsung kasih link Desty Page App punya saya. Soalnya kalau dipikir-pikir kan mending mereka lihat hasilnya langsung, tanpa harus kita jelaskan. Percayalah pamer portfolio itu adalah aset yang luar biasa buat kita sebagi blogger. Karena ini kan jejak digital yang kita punya.

cara membuat website desty app

Saya biasanya masukkan url blog, url sosial media dan email untuk kontak kerjasama di Desty Page App. Jadi kalau mau pamer kan enak, apalagi tampilannya cantik pasti bikin yang liat terkaget-kaget dan tercengang-cengang. 

Di sini bisa masukin banyak portfolio kita sebagai blogger, url postingan bahkan kontak kita. Bebas bisa ditulis semaunya sesuka hati. Tampilan tema juga bisa kita sesuaikan seperti yang diinginkan. Di sini juga bisa banget kalau kita lihat analitik dan terima pembayaran langsung di desty page app. Jadi kalau saya bilang sudah kayak website saja loh! Buat yang jualan juga rekomended kan bisa bayar langsung kalau mau beli. Buat store di Desty ini cepet kok tidak sampai 5 menit, bebas biaya admin dan bisa ngubah desain sesuka hati. Seru kan!

Tapi, walau saya masih harus beradaptasi lebih dari setahun ini jujur ya saya dan suami sangat tentram tinggal di desa. Banyak banget yang bisa saya lakukan di sini dengan biaya yang kami memang sanggupi. Senang? Banget! Plus minus pasti mau dimanapun kita berada.

Dan saya sangat menyukai damainya hati saya sekarang. Semoga selalu sehat dan damai jadi blogger walau di desa. Tidak susah kan memperkenalkan diri jadi blogger di desa? Cobain tips saya. Selamat praktik!

Komentar

  1. Aku sejak jadi bloger udah di desa. Perumahan sih, tapi di desa. Tetep ga pede, mbak.

    Malah WA ga kumanfaatkan, padahal aku tahu itu bisa jd sumber traffic.

    Poin rendah hati, setuju banget. Di desa di jawa mmg harus gitu. Berlagak kyk ga punya atau ga bisa apa-apa gitu. Ih, salah, ya?

    BalasHapus
  2. Masing× temoat tinggal ada plus minusnya ya, tinggal kita masing2 gimana menjalaninya. Eh iya, aku juga pake desty niy buat link bio :)

    BalasHapus
  3. Kalau ini ada plus minusnya, antara mereka ga suka sama ya jadi kenal dan ga ngira kita pengangguran atau pinter bisa cari uang dengan cara mudah. Tapi, malu aja kadang dan lagi sebagian dari mereka ga peduli, apalagi stigmanya, "Ah apa sih penulis, bisa apa kerjaannya cuma gitu doang."

    BalasHapus
  4. Bahagia kita yang ciptakan ya maak...

    Meski di desa tapi anak suami nyaman damai berasa healing tiap hari melihat sawah ijo ijo.

    Mau kepoin desty app aah penasaran

    BalasHapus
  5. wah ternyata ada caranya juga ya mba untuk memperkenalkan diri sebagai blogger di desa, dan aku penasaran dengan aplikasi desty ini

    BalasHapus
  6. tinggal di desa ataupun di pusat kota emang ada plus minusnya ya mbak, kalau buat blogger sih yang penting koneksi internet stabil dan kenceng

    BalasHapus
  7. Suka banget cara kak Echa membesaran hati dan mengolah bahagia dengan cara kak Echa.
    Masing-masing memiliki bahagianya dan semoga dimanapun berada, bisa memberikan inspirasi dan karya terbaik untuk dunia.

    Hello, World!

    BalasHapus
  8. Baca artikel ini kok saya merasa senasib ya. Saya juga tinggal di desa, mbak. Kalau ditanya kerjaannya apa suka susah ngejelasin. Bahkan sama keluarga besar juga kadang susah ngejelasinnya haha. Jadi kalau sekarang suka ditanya-tanya kerjanya apa selalu jawab "di rumah momong bocah" hihi.

    BalasHapus
  9. Mirip ... saya pernah pengen tahu pelopor bank sampah di kota saya ... mau nanya2 saja dan menulis ttg bank sampah tersebut. Saat ditanya saya siapa dan kerja apa, saya bilangnya blogger. Terus ya jadi panjang deh ... saya akhirnya bilang :menulis di internet. Lalu yang nanya bilang, "Oooh wartawan internet." Ya serah deh :D

    Btw Desty App ini keren ya tampilannya ... bisa juga nih dimanfaatkan buat memperkenalkan diri.

    BalasHapus
  10. Peluuuuk, kita samaan hahaha. Jadi ingat cerita-cerita kita mak. Selalu begitu kalau ditanya kerjaan Asli deh kalau dijelasin panjang banget ya.

    BalasHapus
  11. Jadi ingat mama saya yang kerepotan kalau menjelaskan anaknya kerja di mana. Mama jawab blogger, pada bingung mereka. Terus beliau jelaskan lagi, itu lho yang menulis-menulis di internet. Keluarga nebak lagi, ooo wartawan. Mama jelasin lagi, bedaaa..dia nulis di punyanya sendiri. Gak tahu deh endingnya, pada ngerti apa gak. Hahahahah

    BalasHapus
  12. Makasih mba Echa saya juga berasa di desa nih jadi ke sentil. Ditempat suami tinggal banyakan pada menjahit soalnya. Mau kepoin desty juga ah.

    BalasHapus
  13. Ya Allah ngakak ada ya Blogger Desa, aku dulu malah menyebut diriku Blogger Daerah soalnya jarang banget ngumpul dengan blogger ibu kota heheh... nah kalau kartu nama aku setuju tuh

    BalasHapus
  14. Daripada capek jelasin ke orang baru terus, mending langsung sodorin link profile kita ya Mak. Ide cemerlang ini. Kudu saya praktikin secepatnya. Blogger desa, rejeki kota dong! 😆

    BalasHapus
  15. Sering liat iklannya desty page app ini, tapi belum pernah coba sih... Gemes ya desainnya cakep-cakep... Nanti coba bikin juga ah...

    BalasHapus
  16. Hehe, aku juga sering nih kebingungan kalo ditanya kerjaan. Aku bilang blogger, mereka gak tahu apa itu blogger. Dan iya, ujung-ujungnya pasti: Oh wartawan. Aku biar cepet bilang aja iya. Wartawan online tapi di website sendiri. Wkwkwk.

    BalasHapus
  17. Wow aplikasinya bagus nih, jadi pingin coba hahaha, tapi aku aja yang tinggal di lingkungan bisa dibilang masih seputaran jabodetabek masih banyak yang belum paham kerja blogger itu apa, memang sih masuknya kabupaten tapi nyaris 80% tetangga perumahanku kerja di pabrik jadi ngak paham pekerjaan digital macam ini. Mereka tahunya mama Aisha (nama ankku) kerja online di internet...ya sudahlah suka-suka aja.

    BalasHapus
  18. Daku juga awalnya gegar budaya waktu tinggal di Ungaran Cha hehe lama-lama ketemu teman sejiwa ya betah, bikin komunitas di daerahmu itu bukan impian kosong kok coba cari remaja putri atau ibu muda yang tertarik nulis bisa tuh diajarkan dari 0 buat ngeblog. Kalau mereka akhirnya bisa aktif nulis bahagianya tak terkira..

    BalasHapus
  19. belum cobain desty mbak, tapi cobain yang versi "kembarannya" itu
    kalau bikin ginian, emang suka atik atik, soalnya liat punya beberapa temen unyu juga. Kreatif kreatif semua
    dulu kalau aku bilang blogger, bagi sebagian orang di lingkungan rumahku ga ada yang paham apa itu blogger, kayak susah njelasinnya
    paling gampang kadang aku jawab jurnalis :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Hayo komen yukkkkkk!