Ketika Cinta Kami Diuji

Ketika Ujian Cinta Kami Datang

Pernah tidak merasa capek dengan sesuatu? Kadang saya suka merasa capek dengan sesuatu. Iya pernah, eh bukan... sering ding!


Jujur, setahun ke belakang memang sesuatu. Semua terasa dimulai saat hamil Rafif, insyaAllah anak bungsu kami. Ada saja pokoknya percikan-percikan sesuatu kecil kecil kecil sampai akhirnya saya dinyatakan kena PPD. Post partum depression, yaa nanti akan cerita lagi khusus PPD ya. Kali ini saya cuma ingin meluapkan hati yang pernah sedih. Ingin cerita saja, sudah lama saya kan ga pernah curhat bebas di blog seperti yang saya mau. Well, semoga bukan menjadi hal aib ya, karena bagaimanapun sebenarnya memang harus menelan cerita tentang keluarga. Cuma saya memang tidak punya teman yang bisa diajak bercerita sampai saat ini. Saya merasa sendiri. Saya cuma ingin cerita saja. Iya, ini sudah kejadian lama dan baru bisa cerita sedikit demi sedikit. Karena saya yakin setiap keluarga punya ujiannya sendiri.

Tujuan saya nulis ini memang cuma curhat, semoga tidak menjadi membuka aib keluarga kami. Bagaimanapun kami sudah berusaha melewatinya bersama dalam mencari nafkah dan mengurus anak. Suami suka memeluk saya di malam hari dan bilang kita pasti bisa melewatinya. Percayalah kita pernah melewatinya dan pasti akan selalu bisa melewatinya bersama. 

Btw, beberapa kali baca curhatan WAG orang, hampir rata-rata bercerita tentang dilema tinggal bersama mertua atau Ibunya. Yang suka diomelinlah, suka dinyinyirinlah, suka diginiinlah digituinlah. Macem-macem ceritanya.

Padahal kalau mendengar cerita drama mertua, Ibu dan menantu selalu suka buat saya iri. Seumur hidup menikah hampir tidak pernah ada sama sekali prahara antara saya dan mertua. Adem banget hampir tidak pernah ada yang namanya ngatur-ngatur kehidupan rumah tangga kami selama ini. Seadem Papih pembawaannya, cuma mungkin karena jauh sih ya.

Ya, kami kan di perantauan, kadang rasanya sedih semua serba sendiri dan kekurangan. Pernah di suatu titik kami hanya makan nasi kecap dan 1 butir telur dadar yang harus dimakan berlima. Pernah juga kami meminjam uang untuk biaya SPP sekolah anak dan akhirnya kami kehilangan teman karena masalah utang tersebut. Karena dalam masa tertentu kami memang hampir tidak ada sama sekali pegangan buat makan apalagi bayar SPP, jadi mau tidak mau pinjem uang. Dan iya lama kami balikin. Kami pinjam 1,5 juta senilai 1 blogpost di blog ini. Tapi terasa sulit mengembalikan waktu itu.

Suami yang disalahkan teman saya karena tidak mengembalikan dalam waktu lama. Kalau tidak salah kami pinjam saat melunasin uang SPP biar bisa ambil rapotan Raffi setelah lahiran Rafif dan baru dibalikin 1 tahun berikutnya. Ya bagaimanapun saya tetap membela suami dengan mohon kelonggaran waktu melunasi saat itu. Sampai akhirnya diputuskan pertemanan sepertinya. Tapi ya sudah selama masa saya baby blues dan PPD hampir tidak ada teman yang menemani, adanya yang sering menjudge saya macam-macam. Tidak ada yang mau mendengarkan cerita saya sama sekali. Kami terima iya kami terima. Karena memang percuma menjelaskan, kami yang salah meminjam apa mau dibela kata. Yo wes. Tapi apa harus seperti itu? Dan alhamdulillah setahun kemudian kami bisa mengembalikan 1.5 jutanya.

Pernah pun waktu masa-masa itu, Saat saya mau marah kenapa salah satu sahabat saya jarang menanyakan kabar, saya marah dalam hati dia tidak perhatian sama saya. Tapi ternyata saya begitu egois. Sahabat saya saat itu malah lagi dalam proses perceraian. Dan saya malah egois karena sahabat saya tidak perhatian sama saya, padahal saya pun tidak menjadi pendengarnya saat itu. Sampai saya bingung, ternyata kami punya cerita masing-masing. Kami punya sakit sendiri-sendiri saat itu, tanpa bisa kami ceritakan berbagi sama orang lain. 

Iya waktu itu, setahun lalu. Hari-hari berat menurutku. Pagi urus anak antar jemput sekolah sampai les sore hari. Anak nangis di mobil harus disusui padahal si Kakak lainnya harus makan dan ke tempat les. Huhuhu. Di mobil saya sering menangis sendiri. Menyalahkan kenapa saya cuma sendiri melakukannya, kenapa suami harus ke kantor, kenapa saya malam harus tetap kerja buat tambahan makan uang, kenapa saya kenapa saya. Saya marah sama diri sendiri, saya jadi sering marah sama suami. Iya pertengkaran kecil yang cepat redam, karena untungnya saya dan suami memang saling melengkapi. Dia halus, saya kasar. Dia tenang saya blingsatan. Cuma kalau dipikir-pikir, Allah memang memberikan yang terbaik pada umatnya, seperti kami berdua. Cinta kami berdua.

Akhirnya akhir tahun kemarin suami pun resign. Keputusan berat, itupun karena sudah tidak bisa meninggalkan saya sedetikpun hingga saat ini. Dia begitu mencintai saya, sampai berani keluar agar saya tenang dia selalu di samping saya. Dia berani dinyinyirin banyak pihak untuk menjaga saya di rumah. Membantu saya memasak, mencuci baju, mengepel lantai, memandikan anak dan hal-hal lain yang biasanya saya sendiri. Saya percaya pertolongan Allah banyak, sembari mengurus saya di rumah pengajuan resign suami pun di acc tanpa dia harus datang ke kantor sama sekali. Iya, perbedaan saya dan suami sangat mencolok masalah pertemanan. Saya punya banyak sekali teman, tapi saat saya butuh kadang hampir tidak ada yang menemani. Kalau suami, saya tahu dia tidak banyak teman tapi teman dia selalu sigap membantu saat diminta. Kadang membuat saya iri, bagaimanakah sebenarnya pertemanan saya. Apakah saya salah berteman? Apa saya tidak pandai berteman? Entahlah, mungkin Allah memberikan ujian salah satunya seperti ini.

Tapi memang saya masih selalu percaya Allah. Saat kami ingin menyerahkan diri semua sama Allah, Allah mudahkan dari berbagai penjuru, apapun jalanNya. 

Waktu itu kirain sudah berhasil melewati ujian cinta di masa-masa berat. Ternyata ada pandemi seperti inii yang luar biasa pun menguji kami. Ketika kami ingin membesarkan garuda balloon party, ternyata pandemi mengubah segalanya. Dekoran event berkurang dan yang kuat tetap kokoh berdiri adalah dekoran besar yang sudah ada nama plus dekorasi mantenan yang bertahan. Dekoran kecil seperti kami yaaa dadah babay. Tergerus nama, sekedar nama. Orang juga akan lebih mikir beli balon rangkai sendiri ah daripada pakai jasa kami. Disaat itu kami berdua mulai putus asa. Iya awal-awal pandemi dengan PPD yang belum tuntas benar-benar menakutkan. Saat itu. berat. Tidak jarang kami berpelukan berdua, saya menangis dan dia menenangkan. Bagaimana ini cara membesarkan anak, bagaimana ini makan anak-anak setiap harinya, bagaimana bagaimana bagaimana...

Berat sangat. Fyuh.....

Masa-masa sulit itu mungkin memang sudah berlalu. Saat ini, kami tidak riba satu rupiahpun, kami tidak utang satu rupiahpun juga, kami selalu bersama satu sama lain, dan kami saling menyemangati satu sama lain. Lebih tenang rasanya hidup seperti ini. Walau tidak bisa dibilang cukup, tapi kami sudah tidak pernah kelaparan lagi. Walau kami tetap hidup pas-pasan, kami bahagia. Semoga.

Tapi lagi-lagi Allah bukakan pintu dan hati dengan segala cara. Karena tahu suami suka masak, kami jualan serundeng. Bati (untung) kami di 5000 satu bungkus serundeng. Awal-awal alhamdulillah rame, tapi lagi lagi berkurang penjualan. Sedih pasti. Dimana anak-anak harus makan, bayar air, bayar rumah, dll hikz. 

Beberapa hari kemarin, saya iseng cek-cek akun-akun mantan. Entah gimana dari awal iseng saya jadi elus dada. Mulai dari mantan yang sudah cerai, mantan yang keluarga bahagia plus pangkat yang bagus, belum lagi mantan yang gajinya belasan puluhan juta dll. Terus saya menangis. Rasanya saya jadi orang paling malang. Malang banget :(

Boro-boro ya suami dapat gaji segitu, untuk dapat 1 juta bersih saja kami harus menjual serundeng 200 biji. Huhuhu. Sedih memang. Tapi rejeki kami mungkin cukup segini. Dan lagi-lagi kami diharuskan untuk bersyukur. Belum lagi lihat teman-teman indahnya di instagram, suami kerja beli ini beli itu, tampak sangat bahagia. Rasanya saya saja yang sedih. Trus baper sendiri, apa keluarga kami saja yang serba susah huhuhu.

Kami masih sangat yakin bisa memberikan rejeki halal dan tidak tersentuh riba. Kami berdua masih sangat percaya dan saling menguatkan satu sama lain bahwa kami bisa membesarkan anak-anak dengan baik. Saya sering menangis di malam hari dan papih pasti selalu menguatkan saya bahwa kami bisa melaluinya.

Iya kami kuat, kami bisa, kami ikhlas.
Karena ada Allah bersama kami.
Karena ada Allah selalu

Hihihi sekali-kali curhat lepas ya. Saya bingung harus curhat di mana saat ini. Saya punya banyak teman, tapi saya bingung harus cerita ke siapa. Papihpun apalagi, semenjak resign dia hampir sama sekali tidak berinteraksi sama siapapun. Masih mending saya deh masih ada sosmed, dia kagak pubg doang paling.

Tapi ya sudah akhirnya dah curhat lepas. Setelah sekian lama. Iya cerita ketika cinta kami diuji. Dan saya yakin setiap keluarga ada ujiannya masing-masing. Semoga kita semua bisa melewatinya ya. Tentunya semua atas ijin Allah. Bismillah buat kita semua. Semangattttt!